Logo
images

MENYIGI MAKAM BASA AMPEK BALAI TUANKU INDOMO DI SARUASO

Tanah Datar.

Banyak Nagari di Ranah Minangkabau yang sudah berdiri sejaka abad silam dan salah satunya Nagari Saruaso yang terletak tidak jauh dari Istano Basa Pagaruyung.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat Nurmatias kepada Bnews Selasa (10/4)Mengungkapkan,Saruaso sudah disebutkan dalam  prasasti Saruosa I yang diterjamahkan dalam bahasa Indonesia “ Raja Adityawarman mendirikan tempat peribadatan untuk kaumnya di Surawasa yang kemudian terjadi perubahan dialek penyebutan daerah akhir menjadi Saruoaso.

“Melihat data historisnya yang ada daerah Saruoaso sudah dikenal pada abad ke XIV masehi. Ada satu prasasti lagi yang sangat fenomenal dalam sejarah peradapan manusia yaitu prasasti Banda Bapahek (Bandar Berpahat) yang isinya mengenai Raja Adityawarman membangunan irigasi untuk masyarakat di Saruoaso. Raja Adityawarman sudah memanfaatkan sungai Batang Selo untuk kemakmuran masyarakat. Kemakmuran daerah ini pada saat ini sebagai lumbung padi di masyarakat masa Adityawarman, Akibat pembuatan irigasi baru, prasasti Banda Bapahek ini hilang dan hancur, Untung ada duplikatnya di Museum Nasional Jakarta. Sampai saat ini daerah kekuasaan Adityawarman tersebut masih menjadi daerah ketahanan pangan  Kabupaten Tanah Datar dan Provinsi Sumbar”Sebutnya.

Menurutnya,tidak banyak masyarakat Minangkabau yang mengenal sosok tokoh ini. Setelah abad ke XV dunia Minangkabau hilang dalam panggung sejarah. Kemudian baru muncul lagi sejarah Islam di Minangkabau pada abad ke XVII dengan hegomoni kerajaan Pagaruyung dan salah satu tokoh Tuanku Indomo.

“ Tokoh ini hadir dalam sejarah masuknya Islam ke Minangkabau, Gelar Tuanku merupakan orang yang paham dan mengetahui seluk beluk agama Islam”Jelasnya.

Disampaikan,saat ini masih  terjadi perdebatan tentang peran Tuanku dengan Syekh. Syekh merupakan tokoh yang punya aliran dan tarekat serta biasanya punya sebuah lembaga pendidikan (pesantren), sedangkan Tuanku adalah seorang tokoh ulama yang tidak melahirkan sebuah aliran dan tarekat dalam Islam.

Tuanku Indomo yang merupakan salah satu dari Basa Ampek Balai semasa Kerajaan Pagaruyung. Basa empat Balai yaitu Bandaro di Sungai Tarab, Indomo di Saruaso, Mangkhudum di Sumanik, dan Tuan Gadang di Batipuh yang merupakan pembesar pemerintah pusat.

“Dalam struktur pemerintahan kerajaan Pagaruyung, Rajo Tigo Selo atau Raja Tiga Sila, dibantu oleh orang besar atau Basa yang kumpulannya disebut Basa Ampek Balai, empat orang besar yang mempunyai tugas, kewenangan-kewenangan dan tempat kedudukan atau wilayah sendiri pada nagari-nagari yang berada di sekeliling pusat kerajaan, Pagaruyung. Tuan Indomo berkedudukan di Saruaso dengan julukan Payung Panji Koto Piliang dengan tugas pertahanan dan perlindungan kerajaan”Jelasnya.

Kemudian pada masa Islam kita menganal tokoh Tangku Indomo yang pernah tercatat dalam sejarah Minangkabau.

Lebih lanjut Nurmatias menerangkan,berdasarkan tipologi nisannya bertarikh abad ke XVII masehi. Dalam Disertasi Ottman Yatim dengan judul Batu Aceh dan Disertasi Prof Dr. Herwandi masih masalah nisan yang dibahas. Masukan nisan Tuanku Indomo ini sebagai tipologi nisan Aceh.  

“Kompleks makam ini terdiri dari 20 buah makam dan dipagar dengan tembok keliling dari susunan batu kali. Kompleks makam Indomo ini terbuat dari andesit. Jirat makam semuanya terbuat dari susunan batu kali dengan nisan-nisan tipe Tanah Datar yaitu bentuk pipih seperti hulu keris untuk nisan wanita, dan bentuk nisan seperti “phallus”(alat kelamin Laki-laki) untuk nisan laki-laki.  Makam Indomo jiratnya berupa tembok keliling berplester semen dengan ukuran panjang 300 cm, lebar 154 cm, tinggi 105 cm, dan tebal tembok 25 cm.  Nisannya terbuat dari batu andesit, nisan hanya satu buah di bagian kepala dan ditempatkan di luar jirat tembok, berbentuk phallus berhias keris. Nisan ini berukuran tinggi 130 cm dengan diameternya 36 cm. Dengan Phallus menandakan strata  sosial orang yang dimakamkan. Tradisi membuat alat kelamin dalam peradapan manusia tidak berasal dari masa Islam. Pada masa Prasejarah juga dipersonifikasikan dalam bentuk menhir “Tuturnya.

Menurutnya,tradisi menhir di Sumatera Barat bisa di lihat di daerah 50 Kota. Tanah Datar dan tempat lain di Sumatera Barat. Dengan bentuk menhir yang bengkok sering ditamsilkan dengan tabiat orang yang negatif orang Minangkabau, “ Takurung indak di lua ta himpik indak di ateh” (terkurung ingin di luar dan terhimpit hendak diatas) atau disebupadang bengkok.

“Kemudian budaya masa prasejarah ini berlanjut pada masa Hindu Budha yaitu Lingga Yoni, Lingga merupakan manisfetasi alat kelamin laki-laki dan yoni merupakan manisfetasi alat kelamin wanita. Phallus ini merupakan lambang kesuburan manusia. Bentuk Nisan yang ditanamkan sebagai simbol sosial yang tinggi pada masyarakat. Tuanku Indomo merupakan tokoh yang hebat maka bentuk Nisan kuburnya juga unik dan fenomenal bentuknya dengan nisa-nisan lain yang ada dikompleks  Disisi lain bentuk nisan yang dibuat melanggar sebuah tatan agama Islam  yaitu tidak boleh memberikan pandangan atau penglihatan mata kepada hal yang tidak baik, tetapi karena Islam itu toleran dan memakai konsep budaya lain dalam sistem kehidupan umat Islam. Itulah budaya yang cair dalam proses perjalanan peradapan umat manusia”Pungkasnya mengakhiri keterangan Tentang keberadaan Makam Tuanku Indomo yang dulunya salah satu basa empak balai.(Reyhan/LAP).

Sumber.BPCB Sumbar


TAG

Dipost Oleh SATRIA

wartawan /Reporter/ Tim Liputan Batusangkar NEWS| Sumber Informasi Terpercaya Batusangkarnews.com

Tinggalkan Komentar